Manajer Timnas Indonesia U-22, Endri Erawan, berharap penyerang Marinus Wanewar tidak mendapat sanksi tambahan di SEA Games 2017 setelah dianggap sebagai penyebab kericuhan saat pertandingan terakhir Grup B melawan timnas Kamboja di Stadion Shah Alam, Kamis (24/8).

Marinus sudah dipastikan absen memperkuat Timnas Indonesia U-22 di laga semifinal melawan Malaysia, Sabtu (26/8). Penyerang 20 tahun itu mendapat sanksi satu pertandingan karena akumulasi kartu kuning.

Marinus berpeluang mendapat sanksi lebih berat menyusul kericuhan yang terjadi usai laga melawan Kamboja. Pemain Persipura Jayapura dikabarkan melakukan provokasi terhadap timnas Kamboja dengan menggerakkan alat vitalnya ke arah bangku cadangan pemain Kamboja.

“Marinus hanya disanksi untuk pertandingan semifinal. Mudah-mudahan dia tidak kena sanksi lebih lanjut,” ujar Endri kepada CNNIndonesia.com, Jumat (25/8).

Tindakan Marinus dianggap pelatih timnas Kamboja, Leonardo Vitorino, menjadi pemicu terjadiya kericuhan usai pertandingan melawan Timnas Indonesia U-22. Vitorino berharap manajemen tim Garuda Muda memberi hukuman kepada Marinus.

“Saya pikir pemain nomor 24 Indonesia (Marinus) harus dihukum pelatih (Luis Milla) mereka. Kondisi pertandingan menjadi buruk karena dia, saya yakin kamera mendapatkan aksinya. Bukan tugas saya untuk menghukum dia, tapi itu masalah Indonesia. Perkelahian dimulai karena pemain ini,” ucap Vitorino.

Sementara itu pelatih Timnas Indonesia U-22, Luis Milla, kecewa dengan perilaku yang ditunjukkan Marinus. Pelatih asal Spanyol itu mengatakan Marinus seharusnya bisa menjaga sikap sebagai pesepakbola tim nasional.

“Pertama, saya mau minta maaf atas apa yang dilakukan Marinus di akhir pertandingan, saya sangat sedih atas perilakunya. Harusnya sebagai pemain nasional Marinus dia bisa menjaga diri, karena dia wajah tim nasional dan negara,” ujar Milla.

Marinus sendiri salah satu dari tiga pemain Timnas Indonesia U-22 yang dipastikan absen menghadapi Malaysia karena akumulasi kartu kuning. Dua pemain lainnya adalah Hansamu Yama Pranata dan Muhammad Hargianto.