Tiga orang yang diduga provokator dalam insiden kerusuhan saat pertandingan antara Bhayangkara FC dan Persib Bandung di Stadion Patriot Chandrabaga, Bekasi telah diamankan polisi.

Mereka telah berada dalam pengawasan Kepoliisian Resor Metro Bekasi Kota dan mengikuti pemeriksaan.

“Mereka suporter Persib, masalah itu Viking atau Bobotoh, kita tidak lihat ke sana,” ujar Kapolrestro Bekasi Kota Kombes Pol Hero Bahtiar seperti dikutip dari Antara.

Hero mengungkapkan, insiden itu muncul akibat kurangnya sportivitas pendukung untuk menerima kekalahan timnya dari Bhayangkara dengan skor 0-2.

“Pendukung Persib sangat saya sayangkan, karena kalah menang itu suportivitas pendukung. Mereka tamu di Bekasi,” ujar Hero.

Sejauh ini, Hero menyatakan pihaknya belum menerima laporan korban yang merasa dirugikan baik materi maupun moril dalam insiden kerusuhan tersebut.

“Jumlah korbannya belum kami dapat, karena memang tidak ada laporan dari yang bersangkutan,” katanya.

Di satu sisi, Hero mengakui ada kelemahan kepolisian dalam proses pengamanan pertandingan sehingga penonton yang membawa kembang api atau suar lolos dari pemeriksaan petugas.

“Kami sudah geledah semaksimal mungkin pada penonton, tapi faktanya ada yang lolos bawa kembang api bahkan sampai menerobos masuk ke lapangan. Saya akui petugas lapangan lemah dalam pengawasan,” katanya.

Kerusuhan di Stadion Patriot bermula saat Bhayangkara FC menciptakan gol kedua pertandingan pada menit ke 81. Gol tersebut membuat oknum Bobotoh kecewa dengan kepemimpinan wasit dan para pemain Persib. Walhasil, sebagian ada yang menerobos masuk ke lapangan, dan ada pula yang melempar suar serta botol plastik.

Keributan semakin menjadi saat Bharamania, suporter Bhayangkara FC, kesal dengan ulah provokator kerusuhan dengan menangkap para oknum di tribune timur.

Situasi tersebut pun memaksa wasit Yeni Krisdianto menghentikan sementara pertandingan selama lebih dari sepuluh menit. Pertandingan baru dilanjutkan setelah situasi berhasil ditenangkan para petugas berseragam polisi.

Kerusuhan suporter itu pun mengundang kritik dari penyerang asal Inggris yang bermain di Persib, Carlton Cole. Menurut dia, aksi kekerasan para penonton itu tidak selayaknya ditunjukan di muka umum hingga menganggu jalannya permainan. Cole menganggap insiden itu sebagai bentuk ketidakdewasaan penonton dalam menerima hasil pertandingan.

“Kondisi seperti ini sangat jauh berbeda dengan suporter internasional yang sudah dewasa dalam menyikapi hasil pertandingan,” kata penyerang bernomor punggung 12 itu.

Akibat kejadian itu, tim berjuluk Maung Bandung itu terancam tiga sanksi sekaligus akibat ulah suporter yaitu menyalakan suar, pelemparan botol plastik ke dalam lapangan, serta suporter yang menerobos masuk ke dalam lapangan.