Pemerintah Kota Semarang siap memfasilitasi dan mengkomunikasi dengan pihak swasta untuk mendukung pendanaan klub sepak bola PSIS Semarang yang tak lagi mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Dulu, kita ingat bagaimana support dari APBD. Hari ini, teman-teman PSIS Semarang harus berjuang dari sektor swasta, dari ticketing, dari industri sepak bola,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di Semarang, Sabtu.

Meski demikian, Hendi, sapaan akrab orang nomor satu di Kota Semarang itu, Pemkot Semarang tetap akan mendukung klub kebanggaannya dengan berupaya memfasilitasi pihak swasta melalui dana CSR (corporate sosial responsibility).

Menurut dia, sumber pembiayaan PSIS Semarang yang tak lagi mengandalkan APBD tidak boleh menyurutkan semangat para pemain untuk menorehkan prestasi sebagaimana yang pernah diraih di masa kejayaan skuat berjuluk “Mahesa Jenar” itu.

“Ini harus kita dukung, kami akan memfasilitasi hal tersebut. Kami akan berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan mengenai dana CSR-nya di saat PSIS Semarang punya prestasi. Bagaimana bisa sejajar dengan klub-klub besar lainnya,” katanya.

Hendi mengingatkan sejarah perjalanan PSIS Semarang yang luar biasa di era kejayaannya, seperti pada 1987 yang sampai dibuatkan patung sang pemain legendarisnya, Ribut Waidi dan dipasang di kawasan Jatingaleh sebelum GOR Jatidiri, Semarang.

“Kemudian, bagaimana di era Tugiyo juga bisa juara pada 1999, saat Pak Kawi (Sukawi Sutarip, Wali Kota Semarang ketika itu) juga pernah nomor 2 dan 3. Ini harus jadi momentum bagaimana PSIS bisa sejajar dengan klub besar lain,” katanya.

Diakuinya, memang memerlukan kerja keras karena sekarang ini PSIS Semarang berangkat dari Liga 2, namun jajaran manajemen beserta pemainnya sudah berkomitmen untuk bisa lolos ke kasta tertinggi kompetisi PSSI, yakni Liga 1.

“Sebagai warga Semarang, sedulur Semarang, saya berharap PSIS bisa jadi klub kebanggaan. Artinya, terukur. Dari hasil peringkat yang baik, suporter fanatis selalu mengembangkan iklim kondusif, dan euforia positif,” kata Hendi.

Maka dari itu, ia meminta manajemen untuk selalu mengajak suporter berembuk agar meninggalkan hal-hal negatif, seperti tawuran, menonton tanpa membayar tiket, dan aksi anarkis karena akan bisa mengangkat citra klub