Sepuluh pemain PSIS Semarang yang dijatuhi sanksi karena terlibat dalam skandal sepak bola gajah pada 2014, kini dipulihkan statusnya.

Direktur Umum PSIS Semarang Khairul Anwar di Semarang, Senin 23 Januari 2017, mengatakan membenarkan pemulihan status 10 pemain beserta tiga ofisial tim tersebut.

“Pemulihan status sesuai keputusan Ketua Umum PSIS Semarang Nomor 009/Kep/PK-PSSI/I/2017 tertanggal 10 Januari 2017,” kata Khairul.

Surat keputusan mencabut sanksi larangan beraktivitas di persepakbolaan Indonesia.

Ia menyebut pada tahap awal ini terdapat 10 pemain dan tiga ofisial. Kesepuluh pemain itu masing-masing Saptono, Eli Nasoka, Taufik Hidayat, Andik Rohmat, Franky Mahendra, Sunar Sulaiman, Ronald Fagundez, Julio Alcorse, Vidi Hasiholan, dan Anam Syahrul.

Sementara tiga ofisial terdiri dari pelatih Eko Riyadi dan dua asisten pelatih, Setiawan serta Budi Cipto.

Menurut dia, sejak awal PSIS memang sudah mengajukan peninjauan kembali (PK) atas sanksi yang dijatuhkan tersebut.

Sebanyak 18 pemain beserta enam ofisial PSIS dijatuhi hukuman larangan beraktivitas di persepakbolaan profesional Indonesia. Peninjauan kembali, lanjut dia, diajukan terhadap seluruh pemain dan ofisial yang terlibat.

“Sementara ini memang baru 13 orang,” katanya.

Insiden sepak bola gajah terjadi saat PSIS Semarang bertemu PSS Sleman dalam laga babak delapan besar Divisi Utama di Sasana Krida Akademi Angkatan Udara (AAU), pada Minggu 26 Oktober 2014.

Di laga tersebut, PSS menang 3-2 atas PSIS dengan lima gol yang tercipta merupakan hasil gol bunuh diri.

Peristiwa sepak bola gajah tersebut terjadi karena ada instruksi agar menghindari tim kuat Borneo FC pada babak berikutnya.(ant)