Barangkali, tak ada momen yang paling tepat untuk menjadikan sepakbola sebagai alat pemersatu bangsa kecuali saat ini, pada gelaran Piala AFF 2016. Ketika kata banyak orang bangsa ini sedang dipecah-belah (entah oleh siapa) dengan isu SARA, tim nasional Indonesia hadir sebagai contoh.

Anda yang gemar melongok ke dunia media sosial tentu sering menemukan viral yang menggambarkan kebhinekaan timnas. Bahwa timnas terdiri dari pemain-pemain yang berasal dari berbagai suku, daerah, dan agama. Bahkan pelatih yang notabene “impor” pun semua bermisi sama: membawa Indonesia ke level internasional. Itulah kenapa kesebelasan kita bernama “tim nasional”.

Hilangnya timnas dari peredaran selama PSSI dihukum FIFA, ternyata dirindukan sangat. Di babak penyisihan grup, selalu ada ratusan suporter beratribut Merah Putih yang menemani kiprah Boaz Solossa dkk. di Filipina. Dan Anda tahu, butuh uang tak sedikit untuk bepergian ke luar negeri – dan mereka melakukannya atas nama sepakbola.

Apalagi ketika timnas — Alhamdulillah – lolos ke babak empat besar, baik semifinal maupun final. Saya berani jamin, kalaupun Indonesia memiliki stadion yang berkapasitas lebih dari 200 ribu penonton, maka stadion itu tetap akan terasa kurang besar untuk menampung jutaan penggemar timnas.

Ya, itu lantaran timnas bukan milik orang Jakarta atau Cibinong. Timnas ya milik semua orang Indonesia. Tak heran jika pengunjung Stadion Pakansari dalam dua pertandingannya tak cuma didatangi orang-orang Jabodetabek, melainkan saudara-saudara kita dari berbagai daerah – walaupun tentu saja jumlahnya “minor”, lantaran faktor geografis. Stasiun televisi yang menyiarkan langsung pertandingan leg pertama melawan Vietnam dan Thailand, mencetak rating yang “wow” berkat membludaknya pemirsa.

Nasionalisme seperti itu terakhir kali nyata di tahun 2010 saat Indonesia menjadi tuan rumah Piala AFF 2010. Nasionalisme yang juga ditandai dengan berderet-deret atribut timnas yang dijajakan di mana-mana, apalagi di sekitar stadion. Syukurlah, tak ada fatwa yang mengharamkan suporter timnas mengenakan jersey KW. Pemakai kaus 700 ribu rupiah sampai 50 ribu perak, semua “setara di mata hukum sepakbola Indonesia”. Ini hebat, bukan?

Sayangnya, semangat kebersamaan untuk timnas lumayan terusik dengan tetap dilangsungkannya pertandingan Indonesian Soccer Champions. Fokus sepakbola kita jadi terpecah belah: timnas sedang tanding, lha kok bisa-bisanya klub juga turun ke lapangan di hari yang sama.

Persatuan universal di partai pamungkas

Semangat untuk timnas Indonesia, plus harapan setinggi-tingginya, terpancar saat pasukan “Garuda” akan memainkan laga pamungkasnya di kandang Thailand pada Sabtu (17/12) kemarin. Jagat media sosial riuh seriuh-riuhnya dengan kobaran api nasionalisme yang menyala-nyala. Semua orang, tanpa dikomando siapapun, serentak melantukan “doa bersama” untuk timnas. Acara nobar digelar di segala penjuru NKRI.

Di Stadion Rajamangala, 1.000-an lebih warga Indonesia menduduki satu sektor tribun tim tamu. Mereka datang dalam kelompok kecil maupun besar, dari kalangan “back packer” sampai yang mampu menyewa bus bersama rombongan. Saya yang berada di sana, menyaksikan sebuah pemandangan yang menakjubkan dan menyenangkan.

Raut-raut wajah yang saya jumpai di sana, tak ada yang menyiratkan keminderan sedikitpun, kendati timnas bermain di markas lawan yang secara teknis lebih diunggulkan. Kenapa harus minder kalau di leg pertama kita bisa menang? Optimisme dan keberanian memang harus disertakan untuk mewujudkan sebuah harapan.

Begitu lantang mereka menyanyikan “Indonesia Raya” tatkala diperdengarkan sebelum kickoff. Bendera merah-putih berukuran raksasa, terbentang di sana – menyaingi panji-panji Thailand. Tak henti-hentinya pula para suporter itu membuat chant-chant “Indonesia!” yang khas itu di belantara biru seragam tuan rumah.

Ketika tertinggal 0-2, dan timnas tampak kesusahan untuk mendekati kotak penalti lawan, sepertinya penonton mulai sadar bahwa mereka butuh bantuan malaikat untuk membalikkan keadaan. Aksi Kurnia Meiga saat mengadang tendangan penalti Teerasil Dangda cukup untuk membangunkan lagi kebanggaan. Kalah dua kosong masih lebih baik daripada kebobolan tiga gol tanpa balas.

Yang paling membanggakan dari suporter Indonesia adalah ketika pertandingan berakhir dan mereka langsung berdiri untuk memberi tepuk tangan panjang buat timnas. Selama 90 menit berada di tengah-tengah mereka, tidak sekali pun saya tak mendengar gerutuan, makian, apalagi kata-kata “kebun binatang” untuk pemain. Semua terlihat baik-baik saja.

Pada akhirnya, perlawanan keras sudah diberikan para pemain. Untuk sebuah tim yang baru “hidup” lagi tak seberapa lama, menembus final adalah sesuatu yang di luar ekspektasi – dan layak diapresiasi.

Kesempurnaan dari “persatuan” suporter timnas di sana adalah ketika pendukung Thailand beberapa kali membuat koor “Indonesia! Indonesia!” Dan … suporter kita membalas dengan cara yang sama: meneriakkan “Thailand! Thailand!”.

Di luar stadion, fans kedua kesebelasan pun menjalin persahabatan. Suporter Indonesia lebih dulu bertepuk tangan saat berpapasan dengan pendukung Thailand dan mengucapkan “congratulations”. Pihak tuan rumah menimpali dengan simpatik. Mereka saling tos, berangkulan, berfoto bersama. Yang kalah tak marah, yang menang tak sombong. Semua merasa senang. Semua bisa bersatu karena sepakbola.

Semoga berjaya (lagi) Indonesia.