Sekretaris Jenderal PSSI Ade Wellington menjelaskan perihal dugaan adanya kecurangan dalam penjualan tiket leg pertama semifinal Piala AFF 2016 melalui loket di Pintu Utara Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jumat (2/12) pagi.

Penjualan tiket di loket tersebut diputuskan PSSI setelah evaluasi bersama dengan asosiasi sepak bola Asia Tenggara (AFF) dan jasa penjualan resmi setelah kekacauan pada hari pertama.

Sebetulnya 100 persen tiket diputuskan hanya dijual daring (online) lewat situs Kiostix yang menjadi rekanan penjual resmi tunjukan AFF, Thai Ticket Major. Namun, situs tersebut ternyata tak siap untuk menerima lonjakan pengunjung dalam satu waktu. Akibatnya sebanyak 10 ribu tiket diputuskan dijual langsung pada hari ini.

Sejak loket dibuka sekitar pukul 08.32 WIB, tiket terjual habis dalam tempo tak kurang dari dua jam yakni sekitar pukul 10.15 WIB. Loket itu sendiri sebetulnya dibuka telat dari jadwal yang ditetapkan dari pengumuman sebelumnya yakni pukul 08.00 WIB.

Ade mengakui bahwa adanya keterlambatan pembukaan loket yang semula dijadwalkan pukul 08.00 menjadi sekitar pukul 08.32 WIB. Kondisi tersebut dicurigai para calon pembeli tiket akan adanya kecurangan. Salah satunya,  keberadaan calo yang begitu banyak mendapatkan tiket dari distributor.

“Saya ada di lokasi sejak pukul 08.00, jadi saya tahu kalau ada keterlambatan,” kata Ade lewat sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Jumat (2/12).

Menurut Ade tiket cepat terjual karena seorang pengantre diperbolehkan membeli maksimal empat tiket.

“Kondisinya, berdasarkan perhitungan saya ada sekitar 3000 orang lebih yang mengantre beli tiket. Kalau satu orang maksimal boleh beli empat tiket,  berarti harusnya ada sekitar 12 ribu tiket yang terjual, ” ujar dia. “Sementara hanya ada 10 ribu tiket yang tersedia.  Belum lagi dihitung orang yang datangnya belakangan.”

Namun, diakui dirinya, tak semua dari para pengantre untuk membeli tiket itu murni datang dengan niat guna menonton pertandingan leg pertama semifinal Piala AFF antara Indonesia dan Vietnam. Ia mengatakan ada dua tipikal orang yang datang membeli tiket.

Pertama adalah orang yang datang sengaja antre dan setelah dapat tiket sengaja dijual lagi dalam harga yang lebih besar. Kedua, lanjut dia, orang yang awalnya tidak niat menjual kembali tiket yang telah di dapat. Namun, karena kondisi dan tergiur kesempatan mereka akhirnya menjual tiket yang telah didapat.

“Persoalan calo ini sudah mengakar selama bertahun-tahun. Kami mau bersihkan, repot juga. Kami baru dua pekan jadi pengurus (PSSI). Kami pun ingin masalah calo ini tidak ada,” ungkapnya.

Jangankan untuk Stadion Pakansari yang berkapasitas 30 ribu penonton, Ade menyatakan di Stadion Utama GBK yang kapasitasnya mencapai 82 ribu saja disebut Ade tidak dapat menampung semua pecinta sepak bola yang ingin mendukung timnas Indonesia secara langsung.

“Kenyataannya animo masyarakat begitu besar untuk sepak bola,” kata dia.

Ade pun mengungkapkan dirinya mencoba pembelian tiket lewat sistem daring. Dan dirinya pun merasakan kesulitan yang dialami masyarakat umum tersebut.

“Saya mencoba beli melalui online kemarin (Kamis 1/12) jam 11.00 malam,  setelah menunggu selama tiga jam,  saya akhirnya dapat dua tiket jam 02.00 pagi,” ungkapnya.

Ade mengungkapkan Ia juga mengakui bahwa pengakses situs Kiostix di hari pertama penjualan mencapai 100 ribu orang secara bersamaan. Sebelumnya, secara terpisah, Head of Sales Kiostix Andhika Putra menyatakan pihaknya biasanya menerima 0-50 ribu pengakses dalam satu waktu.

Timnas Indonesia akan menghadapi Vietnam di leg pertama semifinal Piala AFF 2016 di Stadion Pakansari, Sabtu (3/12). Ini jadi kali pertama Timnas Indonesia lolos ke semifinal Piala AFF setelah penantian panjang empat tahun lamanya. Terakhir, Timnas Indonesia lolos ke semifinal Piala AFF di edisi 2010.