Roy Keane menggambarkan Gareth Southgate sebagai seseorang yang baik, namun memperdebatkan bahwa ia tidak sebaik seperti yang banyak orang pikir, namun ia menyambut baik penunjukkan Southgate sebagai pelatih timnas sementara.

Keane dengan gamblang mengklaim jika dirinya tidak punya teman dalam sepakbola, juga Southgate sudah menerima sanjungannya dan ia memberikan sambutan yang hangat. Pria berkebangsaaan Irlandia itu yakin jika mantan pemain bertahan Crystal Palace, Aston Villa dan Middlesbrough itu punya kepribadian untuk memimpin dan mengklaim ia lebih tangguh daripada kelihatannya.

 Southgate mengambil kursi panas kepelatihan tim Inggris, setidaknya untuk empat laga ke depan, setelah pemecatan Sam Allardyce pada pekan lalu dan meskipun sebelumnya ia sudah menegaskan ia tidak ingin mempermanenkan tugasnya saat ini, Keane penasaran untuk melihat bagaimana ia membimbing tim nasional senior.

“Saya suka Southgate,” ungkap Keane, yang sudah menghabiskan tiga tahun terakhirnya sebagai asisten pelatih Martin O’Neill bersama timnas Republik Irlandia.

“Dia adalah pribadi yang baik. Saya ingat dia berusaha untuk mencederai kaki saya dalam babak semi final cupUntungnya, saya keluar dari lapangan (Keane diusir dari lapangan karena ketahuan menginjak Southgate).

“Di samping itu, saya mencoba untuk tidak menyalahkannya. Saya bertemu dengannya dua atau tiga minggu yang lalu, untuk menyaksikan pertandingan Barnsley dan Reading, kemudian di malam berikutnya, saya  bertemu dengan Southgate di laga Everton dan Palace, sehingga ia saat ini sudah berada di posisi yang lebih baik… Ia adalah salah satu teman yang baik.

“Hanya ada satu cara untuk mengetahui apakah ia merasa tertantang untuk melatih timnas Inggris. Ia punya kesempatan itu saat ini. Selalu ada nilai plus dan minus dari setiap pekerjaan. Media selalu bertanya, ‘apakah dia layak untuk itu?’ Ia bermain dengan baik di Middlesbrough, lalu nantikan saja bagaimana dia menjalani tugasnya itu.

“Apakah ia cukup tangguh untuk menjalani tugasnya? Saya belum melihatnya ditingkat klub atau internasional, namun agar Gareth bisa terus bertahan, ia harus mempunyai karakter ‘jahat’ di dalah dirinya. Tentu saja, ia tidak sejahat saya….”