Dengan pengalamannya sebagai pemain, Kurniawan Dwi Yulianto memberanikan diri maju menjadi calon Ketum PSSI. Dia ingin mengembalikan sepakbola tanpa rekayasa.

Hal itu disampaikan oleh Kurniawan di acara debat calon Ketum PSSI di Jakarta, Selasa (4/10), ketika ditanya tentang targetnya saat menjadi orang nomor satu di PSSI itu.

“Jujur saya memberanikan diri maju sebagai calon ketum ini karena experience saya sebagai mantan pemain. Tapi tujuan saya sederhana, yaitu membangun sepakbola tanpa rekayasa,” ujar Kurniawan.

Rekayasa yang dimaksud pemain 40 tahun itu adalah seperti kasus pencurian umur yang terjadi di level-level usia muda. Tindakan itu dinilainya sudah menyalahi aturan sebab untuk membangun sepakbola butuh proses.

“Seperti pembinaan usia dini banyak yang curi umur, mereka melalui hasil yang instan bukan melalui proses. Di level profesional pun banyak yang terjadi, banyak yang diakal-akalin. Karena kalau kita ikuti peraturan saja, maka akan berjalan lancar,” katanya.

Selain memperhatikan pembinaan usia muda, Kurniawan juga berjanji bakal memperhatikan lisensi pelatih. Dengan begitu, sepakbola bisa lebih maju.

“Pembinaan usia dini adalah harga mati. Kemudian good governance. Percepatan lisensi kepelatihan dan ingin mempercepat lisensi pelatih,” katanya.