Liga Primer Inggris 2016/2017 baru bergulir tiga pekan. Tapi bagi Manchester City, angin perubahan sudah berembus. Revolusi dalam tubuh Manchester Biru ini telah dimulai sejak pergantian logo kesebelasan dan terutama bersama sang juru taktik baru, Pep Guardiola.

Perubahan berikutnya yang dilakukan oleh Guardiola adalah dengan menyisihkan pemain yang dianggap kurang berguna. Joe Hart, yang sudah seperti bagian sejarah kesebelasan, terasingkan ke Torino. Yaya Toure yang menjadi tulang punggung tim sejak bergabung pada 2010, lebih sering bertepuk tangan dari bangku cadangan, bahkan bangku penonton.

Apalagi pemain seperti Eliaquim Mangala dan Wilfried Bony, keduanya tak dilirik sejak Pep pertama datang ke Etihad Stadium. Sementara itu Samir Nasri memilih hengkang (dengan status pinjaman) ke Sevilla daripada hanya mendapatkan jatah bermain di seperempat terakhir pertandingan.

Pep memang datang ke Kota Manchester dengan segala rancangan strategi yang ada di benaknya. Pemain yang sudah disebutkan di atas adalah pemain yang tak bisa menyempurnakan rencananya tersebut.

Manchester City memang bukan Bayern Munich yang dihuni oleh banyak pemain versatile, yang bisa bermain di banyak posisi. Karenanya ia hanya memilih sejumlah pemain yang sekiranya bisa ia sihir menjadi seperti apa yang ia inginkan. Dengan begitu pekerjaannya bisa lebih ringan, karena yang sejauh ini terlihat pun terlihat Pep masih harus menyesuaikan dengan skuatnya.

Dari tiga pertandingan Liga Primer yang sudah dijalani, Manchester City menorehkan hasil sempurna. Dengan kemenangan dua leg di babak play-off Liga Champions menghadapi Steaua Bucharest, lima pertandingan resmi Man City di bawah asuhan Pep menghasilkan 100% kemenangan.

Secara hasil memang sempurna. Namun secara permainan, Pep bisa jadi belum puas sepenuhnya. Setidaknya hal ini terlihat saat Man City menjamu West Ham United, ketika kubu tamu memperkecil keadaan dari 2-0 menjadi 2-1 pada menit ke-58, Pep tampak kesal dan mengekspresikannya dengan menendang botol.

Kemudian ketika Raheem Sterling mengubah skor menjadi 3-1 pada menit ke-90, Pep merayakannya dengan tidak seperti biasa. Tampak ekspresi lega atas golnya tersebut, di mana ini seolah menunjukkan ia cukup tegang setelah skor berubah menjadi 2-1.

Jika membandingkan permainan Man City saat ini dengan permainan Bayern Munich asuhan Pep musim lalu, permainan Man City belum sempurna. Meski mendominasi, Man City masih sering kehilangan bola.

Indikasi ini terlihat dari perbandingan jumlah operan yang sudah dilakukan Man City sejauh ini. Dari tiga pertandingan, Man City ‘hanya’ memiliki rataan jumlah operan berhasil per pertandingan sebanyak 485 kali dari 571 kali percobaan atau 85%. Disebut ‘hanya’ karena musim lalu bersama Bayern, rataan jumlah operan per pertandingannya mencapai 642 kali dari 729 kali percobaan (88%).

Bisa dibilang, Pep kehilangan sekitar 150 operan dari pandangannya yang dilakukan anak asuhnya. Bersama Man City, ia mulai lebih sering melihat bola dikuasai kubu lawan. Sementara filosofi bermainnya adalah bola harus selalu dimiliki oleh timnya.

“Saya menginginkan bola selama 90 menit. Ketika tim saya tidak memiliki bola, saya akan menerapkan high pressing karena saya ingin tim saya memegang penuh kendali bola,” ujar Pep seperti yang dikutip Sky Sports.

Ini artinya, Man City belum bermain seperti apa yang diinginkan Pep Guardiola. Apalagi melawan Sunderland di pertandingan pertama Liga Primer, Man City hanya melepaskan 12 tembakan sementara Sunderland mencatatkan delapan tembakan. Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Man City pun didapatkan lewat gol bunuh diri Paddy McNair pada menit ke-87.

Dari tiga laga, Manchester City selalu kebobolan. Hal ini juga yang menjadi salah satu indikasi ketidaksempurnaan permainan skuat asuhan Pep di Man City. Karena pada musim lalu bersama Bayern, Manuel Neuer hanya kebobolan 17 kali saja dari 34 laga Bundesliga.

Karena hal ini juga Claudio Bravo akhirnya didatangkan dari Barcelona. Kiper timnas Cile ini diharapkan bisa menduplikasi kemampuan Neuer, khususnya dalam mendistribusikan bola saat membangun serangan sejak dari lini pertahanan. Karena kiper yang bisa menguasai bola dan pintar dalam membangun serangan merupakan sosok penting dalam skema permainan Pep.