Ryan Shawcross menarik kaus dan memegangi tangan Nicolas Otamendi saat mengantisipasi bola penjuru. Insiden pada menit 25 dalam laga Stoke City vs Manchester City di Liga Primer Inggris (EPL), Sabtu (20/8/2016), membuahkan hadiah penalti.

Mike Dean, sang wasit pada laga itu, lantas memberi kartu kuning kepada Shawcross –kapten Stoke. Penalti kemudian menjadi gol pembuka City yang akhirnya menang 4-1.

Dean kemudian memberi penalti lagi pada menit 48. Kali ini untuk Stoke karena Shawcross dihalangi Raheem Sterling, termasuk berusaha memegangi, saat akan menyambut bola pojok.

Sterling menuai kartu kuning dan penalti dituntaskan Bojan Krkic menjadi gol tunggal Stoke.

Insiden seperti di atas adalah lazim dalam sepak bola dewasa ini. Pemain akan berusaha menghalangi lawan dengan menarik kaus dan memegangi lawan dalam situasi bola mati.

Tapi kebiasaan itu harus segera dikikis. Wasit EPL tak akan membiarkan aksi seperti itu bebas dari hukuman lagi.

Hal itu diungkapkan pelatih Stoke Mark Hughes. “Mungkin Ryan (Shawcross) memang menarik kaus (Otamendi), tetapi musim lalu tak akan menyebabkan penalti.”

Pelatih berusia 52 itu mau tak mau harus menelan pil pahit dan akan membenahi cara bertahan para pemainnya dalam situasi bola mati. “Kami harus fokus pada bola,” tegasnya.

Hal senada diungkapkan Pep Guardiola, pelatih City. “Saya dengar soal aturan baru. Kami harus menyesuaikan diri karena wasit kini makin awas pada insiden di kotak penalti,” ujar pelatih yang menjalani musim perdananya di EPL itu.

Jadi memang ada aturan baru. Komisi Wasit EPL pun sudah mengunjungi masing-masing klub dan memberi pencerahan. Sanksi keras bagi pelanggaran tanpa bola di kotak penalti hanya satu di antara perubahan peraturan.

Efek IFAB

Perubahan ini tak lepas dari revisi aturan permainan yang dilansir Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) pada April 2016. IFAB adalah otoritas berwenang yang menangani aturan permainan sepak bola (Laws of game). Apa kata IFAB, FIFA mengikutinya.

Perubahan sanksi tendangan bebas langsung (termasuk penalti) diatur pada Peraturan 12. Misalnya pemain yang dengan sengaja menahan dan memegangi lawan bisa terancam kartu merah, minimal kartu kuning, dan timnya diganjar hukuman penalti.

Menurut kabar Sky Sports (10 Mei 2016), perubahan peraturan yang berlaku untuk semua praktik sepak bola itu merupakan hasil ulasan IFAB selama 18 bulan yang dipimpin oleh eks wasit EPL David Elleray.

Namun peraturan baru soal insiden di kotak penalti sebenarnya relatif lebih ringan dibanding sebelumnya. IFAB menghapus aturan hukuman lama rangkap tiga (triple-punished) yang berbentuk penalti, kartu merah, dan skors untuk seorang pemain yang melakukan kesalahan di kotak penalti.

Sekarang, demikian ditulis The Express, insiden apapun di kotak penalti hanya menghasilkan kartu kuning dan penalti. Tapi tentu saja, bila seorang pemain sengaja melakukan pelanggaran atau menyentuh bola dengan tangan di dalam kotak penalti, wasit masih berkuasa memberi kartu merah.

Kini tinggal soal konsistensi wasit di lapangan. Insiden menarik kaus atau memegangi lawan di dalam kotak penalti adalah hal lazim.

Apakah wasit akan konsisten memberi hukuman penalti bila hal itu terjadi? Itulah ungkapan penyerang Stoke, Peter Crouch, meski dia juga sepakat bahwa para pemain dan tim harus beradaptasi.

“Jika Anda akan memberikan penalti untuk kejadian seperti itu, bakal ada banyak penalti yang terjadi. Orang akan menanti konsistensi (wasit),” tukas bekas penyerang Liverpool itu.

Mantan wasit EPL Dermot Gallagher menegaskan implementasi peraturan baru dalam hal insiden di kotak penalti tidak akan pukul rata. Kepada Fox Sports, Gallagher mengatakan wasit punya hak untuk menentukan apakah aksi seorang pemain memang mengincar lawan atau mengejar bola.

“Bila mengincar lawan, si pemain akan menerima kartu kuning. Tapi bila saya mendorong Anda, artinya saya tidak mengejar bola dan saya bisa langsung diganjar kartu merah,” katanya memberi contoh.

Dan sejauh ini, belum satu pun klub EPL yang mengajukan keberatan pada implementasi peraturan baru itu. Seperti diungkapkan Hughes dan Pep, semua pemain dan tim harus beradaptasi.