Ketua Komisi X, Teuku Riefky, menyayangkan minimnya bantuan yang mengalir pada pebalap berusia 23 tahun itu. Pebalap Indonesia pertama di kancah Formula Satu (F1), Rio Haryanto, masih kesulitan mencari dana untuk mengamankan kursinya di Tim Manor.

Riefky khususnya menyoroti minimnya dana yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Padahal, ia merasa ajang F1 merupakan kesempatan yang bagus untuk mempromosikan Indonesia di mata internasional.

Dalam pemaparan yang dilakukan Kemenpora di hadapan Komisi X di Gedung DPR, Rabu (25/5), Menpora Imam Nahrawi menyatakan dana bantuan untuk Rio yang digelontorkan Kemenpar hanya sebesar Rp5 miliar rupiah.

“Jangan hanya sebagai wacana di media saja (usaha membantu Rio). Kita punya ‘Wonderful Indonesia’ yang disosialisasikan dengan dana hampir Rp3 triliun di mancanegara,” ujar Riefky di Gedung DPR RI, Rabu (25/5).

“F1 saya pikir merupakan salah satu media promosi yang paling banyak dilihat oleh ratusan juta mata di dunia ini. Jadi ya kami menyayangkan Kemenpar hanya membantu 5 miliar.”

Riefky sendiri menilai bantuan yang dikeluarkan Kemenpar untuk Rio itu terlalu minim. Pasalnya, dana promosi yang dimiliki mereka saat ini lebih besar dari keseluruhan dana yang dimiliki oleh Kemenpora.

“Anggaran Kemenpora sendiri tak terlalu banyak jika dibandingkan dengan Kemenpar. Kemenpar itu mempunyai dana promosi mancanegara hingga 3 triliun,” ujar Riefky.

“Sedangkan Kemenpora untuk keseluruhan direktorat dan deputi tak sampai jumlah itu. Jadi tentunya jika bantuan 5 miliar tak akan banyak membantu Rio.”

Nasib pebalap asal Surakarta itu di ajang F1 sendiri memang berada diujung tanduk.

Rio terancam tidak dapat melanjutkan balapannya apabila tak mampu membayar sisa dana yang dibutuhkan pada timnya, Manor Racing, hingga akhir Mei nanti.

Dari total 15 juta euro, pebalap kelahiran Surakarta tersebut masih kekurangan dana 7 juta euro (setara kurs Rp106,9 miliar).